Friday, November 06, 2009

Selamatkan Kepercayaan Masyarakat


Dimuat di rubrik akademia KOMPAS JATENG, 6 November 2009.
Bisa diliat juga di www.ntacaholic.co.cc

Pemberantasan korupsi erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat yang berefek pada tingkat
kejahatan/kriminaltas di tengah masyarakat. Bahwa ketika korupsi meningkat, angka kejahatan
yang terjadi meningkat pula ( Global Corruption Report, 2005). Sebaliknya ketika korupsi berhasil
dikurangi, kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum bertambah. Kepercataan yang
membaik dan dukungan masyarakat membuat penegakan hukum menjadi efektif. Penegakan hukum yang efektif dapat mengurangi jumlah kejahatan yang terjadi.

Apa yang sedang terjadi sekarang, adalah kepercayaan masyarakat kini sedang terombang-ambing. Dalam proses [erjlananan, KPK sebagai salah satu institusi hukum dalam pemmberantasan tindakk pidana korupsi, berbenturan dengan sesama penegak hukum, yaitu kepolisian Republik Indonesia
(POLRI). Adegan ini seolah menjadi fragmen sensasional di hadapan ratusan juta masyarakat Indonesia. Saling berargumen, mempertahankan kebenaran posisi lembaga masing-masing. Lepas dari masalah kontroversi penahanan dua pimpinan KPK, kemelut yang sedang terjadi sebenarnya merupakan perwujudan dari semangat setiap unsur penegak hukum dalam menjalankan tugasnya dan tekad untuk memberantas korupsi. Polisi sebagai aparat mencoba melakukan tanggung jawabnya dengan optimal dan KPK pun sebagai komisi khusus juga bersikeras mempertahankan sebuah idealisme dalam menjalankan tugas-tugas mulianya.

Sebenarnya semangat ini adalah sebuah aset positif dalam misi bersama kita untuk memberantas korupsi. Penanganan korupsi butuh semangat yang besar seperti ini karena memang korupsi adalah kasus kriminal yang luar biasa. Penanganan korupsi tidak cukup hanya melalui mekanisme hukum konvensional. Krupsi adalah kejahatan dengan kategori yang tidak biasa. Seperti diputuskan dalam kongres PBB tahun 1980 mengenai The Prevertion of crime and The Treatment of Offenders, dunia
mengecam dan memasukan korupsi dalam kategori extraordibnary crims (kejahatan luar biasa) yang menyangkut kejahatan terhadap kesejahteraan sosial (crime againts social welfare) , kejahatan terhadap pembangunan crime againts development), dan kejahatan terhadap kualitas lingkungan hidup (crime againts the quality of life). Di dalamnya korupsi diakui dan diidentifikasi sebagai tindak pidana yang sulit dijangkau hukum offences beyond the reach the law) .

Tingkat stadium penyakit korupsi yang tinggi ini menuntut sebuah konsekuensi adanya keseriusan
dan strategi pemberantasan korupsi yang tepat. Hal ini juga menjadi reminder bahwa dalam
melakukan pemberantasan tipikor, perlu ada kerjasama dan pengorganisasian gerakan yang baik.
Seperti dikatakan oleh Sayyidina Ali ra bahwa "Kejahatan yang terorganisir dapat megalahkan
kebenaran yang tidak terorganisir." Terjadinya kemelut ini merupakan akibat kurang
terorganisirnya misi dalam pemberantasan korupsi di negara ini. Hal yang menjadi kekhawatiran
adalah perlu diingat bahwa kemelut yang terjadi diantara penegak hukum memiliki efek yang
sangat luas, Selain berakibat terganggunya sistematika pemberantasan korupsi, kemelut ini telah
berpengaruh pada kepercayaan masyarakat. Hal ini diperkuat lagi oleh aktor media yang dalam
fungsinya untuk menyuguhkan realita kepada masyarakat.

Apapun yang menjadi akar masalah kemelut ini, baik itu politik, hukum, ekonomi, atau yang
lainnya, harapannya masyarakat jangan sampai hancur kepercayaannya pada aparat. Sungguh miris
melihatn masayarakat terbentuk kelompok-kelompok, ada yang membenci POLRI atau sebaliknya.
Masyarakat jangan menjadi korban untuk diarahkan dalam membentuk koloni-koloni yang hanya
akan menimbulkan perpecahan juga. Penyelesaian kemelut KPK-POLRI secara bijak harus segera
diwujudkan untuk menyelematkan kepercayaan masyarakat.

Shinta arDjahrie
Mahasiswi FISIP Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Selengkapnya.....

Thursday, November 05, 2009

Cewek Mandiri : Bukan Harus tapi BUTUH!!!




Mungkin kalo disurvey, alasan para koruptor itu melakukan “kenakalan”, selain factor keserakahan juga factor keinginan membahagiakan keluarga. Mungkin mulia banget ya seorang kepala keluarga pengen memberikan kebahagiaan duniawi pada keluarganya kemudian melakukan berbagai hal! Alasan pragmatis dari tindakan korupsi adalah “yang penting anak-istri saya bisa makan”.

Kenapa kemudian istri menjadi alasan dari sebuah tindakan yang dilarang??? Mungkin memang kecenderungan superioritas laki-laki untuk memenuhi keinginan pasangan hidupnya. Tapi, laki-laki bukan superior dan perempuan bukan inferior toh??? Ya, seorang suami memang punya kewajiban untuk menafkahi keluarganya, tapi bukan berarti sebuah ketergantungan materi seorang perempuan pada laki-laki. Makanya cewek juga butuh kemandirian!!!! Lagipula , kewajiban menafkahi tidak bisa dipersempit maknanya dengan nafkah materi saja. Kepala keluarga tentunya beda dengan bagian keuangan. Analoginya : ketua panitia beda dengan divisi usaha dana. Presiden tentunya beda dengan menteri keuangan. Kepala keluarga dengan tanggungjawabnya untuk menafkahi bukan berarti akan hilang tanggungjawabnya saat ia tak bisa memberikan nafkah materi. Tetap laki-laki adalah seorang kepala keluarga walaupun gaji-nya kecil atau bahkan pengangguran. Sama saja kondisinya dengan, seorang ketua panitia tetap sebagai ketua panitia walaupun ia tak bisa mendapatkan dana kegiatan, karena itu adalah bagian divisi usaha dana.

Saya membayangkan, berapa banyak laki-laki yang terpaksa menjadi korupsi dengan alasan pragmatis untuk memberikan kebahagiaan pada keluarganya. Atau saya membayangkan, bagaimana kekuatan semangat para istri-istri mandiri yang memberikan support kepada para suaminya dan meyakinkan bahwa kita akan tetap bahagia walaupun tanpa limpahan harta. KPK itu mungkin sulit sekali melakukan aksi-aksi pemberantasan dan pencegahan korupsi, tapi para istri-istri/suami-suami koruptor dengan kekuatan cinta yang luar biasa, bisa meyakinkan pasangannya masing-masing bahwa mahligai yang mereka bangun tidak pernah terukur dengan materi apapun, jadi jangan pernah sampai tergoda untuk korupsi. Iya nggak sieh??? Karena kita (perempuan) tidak akan menjadi lemah hanya gara-gara suami tak punya uang banyak. Iya nggak sieh???he3

Itulah yang kemudian kita bisa membangun umat melalui pembenahan keluarga. Isnt it??? Jadi sebagai cewek, istri dan calon istri, MANDIRI itu mungkin NGGAK HARUS tapi BUTUH!!!!!!! Kita butu untuk kemandirian, supaya tidak terbawa pada pragmatisme. Mandiri akan membawa kita pada kepercayaan diri supaya bisa berdiri diatas kaki sendiri, membuat kita tak goyah walaupun banyak godaan. Ayo, mulai dari keluarga kita sendiri!!!!

Teriring rindu untuk keluarga,adik2 dan kakakqu, aq bersyukur mendapat lingkungan pembelajaran yang membuatku terus belajar. Luv u all coz Allah!!!!
05november2009, pagi2. Ngapain nulis tentang ini ya???? Sialan…akhir-akhir intensitas teman-teman yang curhat tentang “jodoh” semakin banyak!!!!. Ya Allah jodohkanlah aku dengan para mukhlisin, dan bukan dengan koruptor…amien!! ^_^he3…

Selengkapnya.....

Nyontek : Dari Kenakalan hingga Pragmatisme!!!!



“ Tidak mencontek memang tidak menjamin jawaban kita benar , tetapi setidaknya kita telah berproses dengan benar”

Akhirnya dua pekan masa UTS , hampir sampai di penghujung. Kalau mengingat ujian-ujian yang kemaren, huffh….. Ternyata, masih jaman ya pada contek-contekan. Di setiap ujian, nggak usah nunggu lama, dalam waktu beberapa menit saja, kasak-kusuk itu sudah mulai terasakan. Banyak tingkahnya, dari mulai angkat alis, lirk kanan-kiri, sampai balikan badan ke belakang. Hemh…, agak dongkol seeh ketika temen yang duduk di sebelah dengan santainya menjulurkan kepalanya untuk melihat jawaban-jawaban ujian qta. Dulu waktu semester awal, ada temen sekelas yang nyebelin banget, dia itu orang yang selalu mencemooh aku ketika aku banyak bolos dan aktivitas di luar, tapi ketika ujian, dan dia duduk di belakangku, dengan seenaknya dia bilang : “kamu tuh keren banget lho sin, genius abiz!!kamu baek banget, bla…bla….bla….” DAMN!!!!! Dia bilang gitu cuma karena mo nyontek jawaban ujian. Aq bales aja : “ Iya, memang…dan kamu cupu abiz karena udah males, bego, nyontek lagi!!!!”.hahahay….

Yeah….aq nulis kayak gini juga bukan karena aku sama sekali nggak pernah nyontek. Jujur aja, aq juga dulu pernah nyontek,khususnya saat SMP. Waktu lagi “lucu-lucu”nya…he3… alias saat-saat itu adalah masa ketika lagi bandel-bandelnya. Sebagai seorang remaja yang menginjak masa puber, yang membutuhkan eksistensi, sosok diriku saat itu adalah petualang yang gemar akan tantangan , termasuk tantangan mencontek….he3.

Waktu itu aku menepis alasan nyontek adalah karena tidak percaya diri. Hemh….bisa dikatakan aku sudah cukup percaya diri untuk mengerjakan soal-soal ujian. Karena saking percaya diri itulah, yang muncul adalah m”mencari tantangan” saat ujian. Dalam benakku saat itu kayaknya keren banget deh bisa lolos dari pengawas yang galak, bisa masuk ruang ujian dengan membawa buku atau kertas contekan, dan nggak ketahuan!!! Wah…seru abiz!!!!! Dulu aq nggak tanggung-tanggung kalo mo nyontek, nggak pake nulis di kertas-kertas kecil, tapi langsung nyontek dari buku. Dalam pikiranku, ngapain juga bikin contekan, bagiku ketika menulis sesuatu otomatis kita akan menghafal apa yang qta tulis, jadi ya sama aja nggak nyontek. Kalau mo nyontek, langsung aja nyontek ke sumber terpercaya yaitu buku.he3. Lucunya, waktu itu saya nyonteknya sambil mikir, apalagi kalo matematika,contekan dari buku kan teori dan rumus-rumusnya aja. Jadi mungkin lebih tepat disebut ujian open book daripada nyontek.he3.

Suatu saat, aq pernah ketauan nyontek. Waktu itu mata pelajaran Sejarah, gurunya judes , aku juga males untuk menghafalkan banyak tahun-tahun dan peristiwa sejarah. Seperti biasa, ide-ku adalah menyiapkan buku paket Sejatrah di laci meja. Ketika ujian berlangsung, aku langsung beraksi, tangan kanan diatas meja, tangan kini gerayangan di laci meja.he3. Ternyata gerak-gerikkku diawasi dari awal oleh sang ibu guru. Malang tak dapat ditolak, aku ketahuan, buku paketku diambil. Walhasil aku melanjutkan mengerjakan ujian tanpa melihat buku. Ketika di akhir ujian, sang ibu guru menghampiriku dan melihat kertas jawaban, beliau bilang : “ Nah, ini bisa tanpa nyontek, ngapain kamu nyontek nduk?!”. Aku Cuma cengar-cengir dengan membayangkan di kantin nanti aku bakal diketawain abis-abisan (waktu SMP, temenku preman-preman semua, kita biasa naik jendela untuk bolos ke kantin…ha3). Tapi, aku jadi mikir juga : “ iya yach…ngapain juga nyontek??? Sebenarnya aq bisa kok!!”.

Tapi memang, saat itu motivasi nyontek tak lebih dari sebuah kenakalan masa remaja saja. Rasa deg-degan saat diam-diam membawa contekan, lega saat nggak ketahuan, itu ada rasa bangga yang menyelip, walaupun kebanggan yang semu. Yang namanya anak-anak kan pengen tampil hebat. Ya, itulah aku dan pengalaman nyontek saat masa-masa sekolah. Sebuah perasaan ingin mencoba tantangan. Sama aja kayak contoh begini : kalo kita pagi-pagi berangkat sekolah sebelum jam tujuh lewat gerbang depan, itu biasa sekali! Tapi ketika kita bisa berangkat sekolah pake manjat pagar, itu luar biasa!!hahahaha. Seru abiz deh pokoknya masa-masa sekolah dulu. Tapi, sedikit membela diri, semasa SMP-SMA saya lebih banyak dicontekin daripada nyontek lho!!!ha3 (tapi dosanya sama aja kok!!! Dijerat pada pasal kejahatan berencana juga tuh!!!:p ).
Tapi, sekali lagi itu hanya bentuk kenakalan saja. Saya fikir wajar aja kalo sekali-kali anak-anak ingin berkreasi dengan berangkat sekolah lewat pintu belakang. Tinggal control dari kenakalan itu khususnya dari keluarga yang menuntun kita (anak-anak) pada sisi kedewasaan. Walaupun saya ungkapkan disini pengakuan mencontek saat remaja, bukan berarti membenarkan nyontek lho ya!!!! Tetep aja, saya ya salah waktu itu!!!aku akui itu!!! Harusnya semangat kenakalan itu bisa disalurkan kepada hal positif lainnya. Jadi, mungkin kisah kenakalan ini sebatas untuk dikisahkan dan diambil hikmahnya aja, bukan ditiru…he3

Kembali kepada masalah nyontek. Kegandrungan pada segala bentuk nyontek itupun lambat laun pudar seiring bertambahnya usia (halah!!tua banget ya daku???!!he3). Ya, karena ketika kita dewasa, kita bukan hanya bisa membedakan mana yang baik dan yang tidak baik, tapi dewasa juga bisa membedakan mana yang pantas dan tidak pantas. Makanya, kalo orang-orang dewasa masih “nakal”, itu tanda bahwa mereka masa kecilnya kurang bahagia….he3. Iya donk!!!! Kalo anak Abege yang cowok sekali-kali nakal ngelirik cewek seksi mungkin itu wajar sebagai sebuah bentuk kenakalan anak, tapi kalo udah mahasiswa dan “dewasa” masih nakal dengan ngegombalin cewek-cewek, berarti dia ada masalah dengan “proses pertumbuhan”, perlu diperiksakan tuh ke dokter, mungkin makanannya kurang asupan gizi jadi hormonnya nggak berkembang.he3. Selain asupan fisik juga asupan rohani. Jadi , untuk pertumbuhan yang ideal, bukan hanya gizi untuk fisik tapi juga gizi untuk ruhani kita, jadi kita bisa dewasa lahir batin.

Nah, kembali lagi ke nyontek, malu juga kalo ngliat mahasiswa-mahasiswa pada nyontek. Saya melihat alasan kenakalan mahasiswa ini lebih kepada pragmatisme saja. Bagi mereka mungkin yang penting ujian kelar, lembar jawab nggak kosong, dapet nilai bagus, IP cukup,nggak peduli itu didapat dari mana. Jujur aja, di lingkungan kampus ku banyak yang seperti itu. Semua serba pragmatis. Apapun caranya, yang pasti tujuan bisa tercapai. Sama aja kayak dosen juga yang bilang “saya nggak mau tahu, yang pasti saya udah ngajar 14kali pertemuan dalam satu semester, tugas saya sudah selesai!!!”. Arrgh….kadang saya bingung dan sedih kalo ngliat seperti itu. Jadi, yang penting nilai ujian bagus, masalah prosesnya benar atau salah itu urusan nanti. Ah…guys, hidup ini cuma sekali masa cuma diiisi tujuan-tujuan pendek seperti itu.

Mungkin kita jadi nggak heran kalo melihat para aparatur Negara berlomba-lomba untuk korup. Saling bahu membahu membela rekan-rekannya yang koruptor, karena memang mereka sudah terbiasa untuk “bekerjasama”, yang penting kantong kita nggak kosong, yang penting dapur bisa ngebul, yang penting anak-istri bisa makan kenyang. Sebatas itukah???? Argh…karena semua memang bermula dari ruang kelas. Semua bermula dari cara kita belajar. Jadi, buat teman-teman semua. Kita nggak harus selalu aksi demonstrasi untuk mencegah korupsi. Ayo, mulai dari kita sendiri!!!! Nyontek??amit-amit deh!!!! ^_^
(nta)

Tema ini dibahas juga pada siaran 5 november 09, di ruang siar yang “sejuk”he3. Setelah beberapa hari absen siaran karena UTS, seneng banget dapetbanyak atensi dari para sobat yang mengungkapkan kerinduannya.he3. Miss u all!!! Luv u all coz Allah!!! ^_^. *seneng banget pagi ini obrolannya seru*. Ini yang selalu membuat aku betah berlama-lama siaran sambil nulis!!! thanx banget bwt semua yang udah share n ngebuat pagi ini rame euy!!!

Selengkapnya.....

Monday, October 19, 2009

Selembar Kain Sang Putri



Perhelatan putri Indonesia 2009 telah berlangsung semarak pekan lalu. Sebuah program tahunan yang bertujuan untuk mencari duta-duta bangsa yang diharapkan menunjukan sebuah kesempurnaan perempuan yang diibaratkan seperti seorang “Putri”. Dengan mewakili setiap daerah di Indonesia, para kontestan Putri Indonesia berlaga di “panggung kerajaan”.

Tahun ini, putri dari daerah paling barat Indonesia berhasil meraih predikat sebagai “Putri Indonesia 2009”. Ada yang membuatqu cukup terhenyak ketika mendengar statement dari sang Putri, bahwa dia menanggalkan jilbabnya untuk mengikuti kontes itu. Adalah seorang Qory- putri kelahiran Jakarta 18 tahun yang lalu dan besar di Nanggroe Aceh Darussalam, yang kini bertahtakan mahkota putri Indonesia itu. Mungkin merasa terbayar dengan kemenangannya sebagai putri Indonesia, sang putri dengan bangga menyatakan bahwa dia melepas jilbab karena rambutnya Indah dan sesuatu yang indah itu tak perlu ditutup-tutupi. Rupanya bagi sang putri kita ini, kerudung hanyalah selembar kain yang hanya akan menutupi keindahan yang dianugerahkan oleh Tuhan.

Hemh…, kalau kita berfikir, memang bagian mana sih dari tubuh kita yang tidak indah??? Dari ujung rambut hingga ujung kaki, semua diciptakanNya dengan sebaik-baiknya bentuk. Sampe lubang hidung yang mungkin Cuma berisi upil-upilkita yang bau (he3), itu juga punya nilai keindahan tersendiri. Kemudian bagaimana kita memaknai keindahan dan fungsi pakaian itu???

Keindahan adalah sebuah anugerah dan nikmat dari Tuhan. Namun apakah keindahan itu untuk dipamerkan dan diperlihatkan? Keindahan adalah sebuah hal yang kita diberi tanggungjawab untuk menjaganya. Tidak semua keindahan bersifat common dan bisa dinikmati oleh semua orang. Kemudian apa fungsi pakaian???

Fungsi dasar dari pakaian adalah kebutuhan kita,bahwa manusia memliki privasi (aurat) dan rasa malu yang harus dilindungi. Sama saja dengan fungsi bank yang melindungi harta kita dengan menyimpannya disana. Tubuh juga adalah harta kita yang harus dijaga dan dilindungi dengan sebaik-baiknya. Kita punya uang saja ditaro di dompet, masa kita punya aurat nggak disimpen di pakaian sieh?

Kalau menurut pendapat temanku, kontes Putri Indonesia dan Putri-putri lainnya memang sebatas kontes kecantikan, tidak lebih dari itu. Objek yang dinilai hanyalah kecantikan, bukan lagi kecerdasan, apalagi kepribadian.

Ya, sekali lagi ini hanyalah salah satu bentuk dari bisnis sex. Putri Indonesia adalah program yang melibatkan berbagai macam sponsor kecantikan dan kewanitaan yang nilai rupiahnya cukup menggiurkan.

Sebatas membawa nama”Indonesia” dalam embel-embelnya ,karena dia lahir di Indonesia, silahkan saja… Tapi jangan anggap bahwa kau mewakili perempuan-perempuan Indonesia, karena perempuan Indonesia tidak sedangkal itu memaknai keindahan dan pakaian.

Selengkapnya.....

Rumah Bordil Masuk TV!!!



“ ampun deh, gak siang gak malem…yang ditonton gituan mulu! Ganti ah!” walaupun dengan resiko mendapat keluhan dari adhe2 kos, tapi dengan tega kukuasai remote untuk mengendalikan acara televisi malam itu. Agak kesal senja itu melihat suasana di ruang tengah. Sebuah kotak ajaib yang menjadi pusat perhatian menayangkan sebuah tontonan.

“ Ya elah mbak, sirik banget, mentang2 belum dapet jodoh!!!”

Halah!!! Enak aja tuh bocah ngomong. Tapi aq tau walaupun mereka protes, mereka paham akan alasanku mengendalikan acara tv. Cukup memprihatinkan memang dengan satu acara ini, acara import yang dikemas dengan kemasan local (halah!!!)ini cukup menarik banyak animo penikmat tv di Indonesia. Tapi kalo dipikir-pikir, penonton itu lebih tepatnya dipaksa untuk suka. Gimana nggak??? Setiap hari mereka dicekoki dengan acara itu dua kali sehari. Tadinya aku pikir acara ini nggak laku, kok siangnya diputer ulang. Tapi setelah liat barisan pariwara-nya, masih lumayan banyak, berarti tinggi juga rating-nya.

Angka penjualan yang cukup tinggi bagi acara Take Me/Him Out. Dengan menghadirkan MC kawakan, Chocky Sitohang, acara ini cukup menyedot banyak rupiah. So, kini bertambah lagi daftar tontonan yang tidak sehat di depan mata anggota keluarga/ teman-teman kita.

Dengan memberikan dua session penayangan, acara ini hadir dua kali sehari, siang dan malam. Siang hari, sekitar pukul 13.00. Kita tau di jam-jam itu , banyak tayangan bagi anak-anak. Jam tayangnya bersamaan dengan beberapa program yang disajikan khusus untuk anak-anak yang mungkin baru pulang sekolah. Jam dimana anak-anak biasa menonton si bolang, acara2 petualangan anak-anak, atau kompetisi-kompetisi bagi anak-anak hingga sore hari. Maka, Take Me/Him Out ternyata juga hadir sebagai alternative acara bagi mereka.



Di malam hari, acara ini menempati prime time, disaat semua orang kini jenuh dengan sinetron yang tidak jelas, Take Me Out hadir untuk memberikan suguhan pada penonton. Bagaimana penonton tidak tercekoki kalau seperti ini?

Acara yang berdurasi sekitar 2 x 60 menit ini, sebenarnya tidak terlalu istimewa. Hampir sama dengan program-program kontak jodoh yang lain. Tapi memang acara seperti ini mampu mengundang rasa penasaran yang cukup besar bagi penonton (khususnya di Indonesia). Dengan menghadirkan pria/wanita single, kemudian mereka diberi sessi perkenalan dan bebas dipilih dan kemudian bebas memilih, pria/wanita mana yang akan diajaknya ke romantic room.

Dengan vulgar, acara ini mempertontonkan tayangan “rumah bordil” yang elegan! Ya, bagi saya mungkin Choky Sitohang tak ada bedanya dengan (maaf) “Germo”. Dua puluh pria/wanita single tak ubah seperti pelanggannya yang ingin mengetahui para “single” yang ditawarkan perharinya. Tak perlu uang banyak, tapi “profesi” atau prestise menjanjikan cukup menentukan apakah sang “single” akan dipilih atau tidak. Untuk semakin meyakinkan bahwa acara ini bermutu, setiap peserta yang berhasil mendapatkan pasangannya, akan mendapat tanggapan dari sang Ustadz Cinta. Baru kali ini saya melihat dengan jelas bahwa ada Ustadz di rumah Bordil.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat membuat orang juga semakin pintar mengemas kemaksiatan dengan cukup elegan. Hal-hal Syirik saja bisa dikemas dengan layanan sms premium. Begitu juga dengan tayangan-tayangan di televisi. Kini kita tak perlu susah melihat bagaimana sebenarnya kinerja germo menjajakan para korbannya pada para pelanggannya. Kalau dulu mungkin masih tersembunyi di balik rumah remang-remang, tapi didalamnya warnanya merah menyala. Disana perkenalan dan transaksi dilakukan dengan diam-diam. Para lelaki hidung belang, baik yang masih lajang ataupun sudah menikah, bisa mencari “kebutuhan”nya disini.

“Sedikit agak beradab”, kini rumah remang-remang itu bisa kita tonton di layar televise dengan kemasan yang gemerlap. Tak jauh beda, para wanita akan dikenalkan dengan pria single. Penentuan pasangan akan dilakukan dengan tiga putaran. Putaran pertama, dikenalkan nama-profesi- dan usianya. Dengan dalih “mendapat chemistry”, beberapa wanita akan tetap menyalakan lampunya, dan yang “nggak daoet chemistry” dipersilahkan mematikan lampunya. Putaran kedua biasanya akan diputarkan video profile, akan semakin jelas bagaimana pekerjaan dan aktvitasnya sehari-hari. Putaran ketiga akan performance. Putaran terakhir kini giliran sang pria yang akan memilih dari para peminatnya yang tersisa. Kalau tidak ada, berarti sang pria itu harus pasrah, bahwa dia bukang orang yang diinginkan oleh para wanita.

Bisnis Sex, dimanapun dan kapanpun selalu menjadi bisnis yang besar dan menjanjikan. Pengalaman baru-baru kemarin, naiknya “isu Miyabi” semakin memperlihatkan bahwa itu merupakan sebuah keuntungan besar2an bagi para penyedia bisnis sex.

Kita lihat bagaimana Valentine, bukan hanya menguntungkan para perusahaan coklat (kalau ini Cuma beberapa persen), tapi juga membuat semua media menyuguhkan acara-acara special valentine, bertemakan kasih sayang, minimarket sampe hypermarket berlomba-lomba memberikan sale besar-besaran. Film-film dan sinetron-sinetron tidak jauh beda akan menjadikan “sex” sebagai tema tayangannya.

Kembali pada Take Me Out, kalau ada yang beranggapan bahwa itu adalah salah satu “ikhtiar” mencari jodoh, ya itu memang pilihan bagi masing-masing orang, akan memilih jodoh dimana??? Ada yang suka cari jodoh di diskotik, atau rumah bordil??ya, itu pilihan kok! Lagipula, saya tidak melihat bahwa para peserta adalah orang-orang yang memang telah siap untuk menikah. Tidak ada jaminan juga bahwa pasangan itu akan diproses ke jenjang pernikahan. Justru seperti menunjukan bahwa hubungan pranikah itu adalah sah!

Apakah para tim kreatif media kita tidak bisa lagi membuat program yang sehat bagi masyarakat Indonesia???

Selengkapnya.....

Gals, jangan lupa mukena-mu!




Iqamah Dhuhur yang berkumandang beberapa menit lalu membuatku agak menyegerakan langkah menaiki tangga menuju tempat sholat perempuan. Ada helaan nafas ketika sampai di ujung tangga dan menyaksikan pemandangan disana. Namun,kutepis dan tak mau banyak berfikir, karena sholat akan dimulai.

Sudah kuduga, seusai sholat, seorang perempuan menghampiriku untuk meminjam mukena. Jujur, sebenarnya itu cukup mengganggu. Pernah nggak ya orang-orang itu berfikir bahwa mereka mengganggu hubungan oranglain dengan Tuhan, yang seharusnya sehabis sholat itu adalah jenak-jenak kita untuk bermunajat. Belum lagi kalau kita ingin menunaikan rawatib.

Satu hal yang mungkin jadi pertanyaan, kenapa sih nggak bawa mukena sendiri??? Toh itu adalah kebutuhan pribadi, dan kita tahu bahwa akan melewati waktu sholat, kenapa untuk hubungan antara kita dengan Tuhan kita tidak mempersiapkannya? Kenapa kemana2 kita bawa make-up,tapi hanya sekedar sepotong mukena, kita lalai membawanya?
Dulu waktu kecil, saya tinggal di sebelah mushola, saya pernah melihat bapak marah-marah pada beberapa jamaah wanita. Pasalnya disaat sholat sedang berlangsung, mereka malah ngobrol ketawa-tiwi sendiri, dengan alasan menunggu giliran mukena. Lalu,dengan nada agak keras, bapakku berkata: “ Kalau niat sholat, ya bawa mukena dari rumah donk!”


Waktu itu,aku sempat berfikir “ih pelit banget sih bapak, di mushola kan ada mukena, ya kita nggak usah repot-repot bawa mukena!”

Namun, ternyata itu pelajaran kecil bagiku yang mungkin awalnya aku hanya melakukannya sebatas sebuah kebiasaan. Lama-kelamaan aku berfikir, sholat adalah kebutuhan bukan kewajiban. Kita yang butuh akan sholat itu,maka kita sendiri yang tahu apa yang harus kita lakukan untuk kebutuhan kita.

Kalau kita butuh sholat, maka kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan itu. Mukena itu adalah pakaian yang sangat penting buat kita. Bahkan tingkat pentingnya lebih dari sekedar pakaian kita sehari-hari karena ini adalah pakaian kita untuk berkencan denganNya,Allah tidak menyuruh kita untuk menggunakan kemeja berkerah atau gaun mode terbaru, jilbab yang sedang trend. Tapi ketika menghadapNya, kita ada dalam kondisi bersih, santun dan sederhana. Pakaian sholat adalah pakaian khusus, kok dengan mudahnya kita kadang berfikir “ah gampang,bisa minjem orang lain”.

Waktu sholat adalah waktu privasi kita, harus terganggu oleh orang-orang yang untuk kebutuhannya sendiri dia enggan untuk membawanya. Di tempat-tempat ibadah memang disediakan peminjaman mukena, tapi itu kan ditujukan untuk musafir dan persediaannya terbatas. Kalau sebatas anak kos yang jarak antara kampus-kos/rumahnya tidak seberapa, dan sudah gede lagi! Sudah bisa tahu, apakah hari itu aktivitasnya akan melewati waktu sholat atau tidak, seharusnya bisa mempersiapkan donk!

Alasan repot kerap kali menjadi factor kita lupa membawa mukena. Padahal hanya satu stel pakaian,apalagi sekarang ada yang kemasan mini,praktis dibawa kemana-mana (lho,kok jadi promo ya???he3). Mungkin dari kita kadang berfikir, “wah kalo cowok enak ya, nggak usah repot-repot pake mukena”. Hemh… apa iya???

Gals, sholat itu nggak repot kok dan jangan dibuat repot. Inti pada sebuah pakaian sholat adalah suci dan menutupi aurat. Ketika sholat, pakaiannya sebenarnya sama saja dengan pakaian sehari-hari kita, kalau kita memaknai bahwa kebutuhan berpakaian adalah kebutuhan untuk menutupi aurat, bukan kebutuhan untuk bergaya. Kalau kita sudah terbiasa menutup aurat, maka ketika sholat juga tidak repot, asal kita juga harus tahu apakah pakaian kita masih bersih atau tidak. Laki-laki pun sebenarnya sama, bukan berarti karena pakaian mereka sudah menutup aurat, ketika mau sholat juga asal saja. Saya salut dengan beberapa ikhwan yang benar-benar menjaga toharoh, dengan mempersiapkan pakaian khusus untuk sholat untuk lebih berjagta-jaga ketika pakaiannya terkena najis.

Mukena itu kan salah satu “budaya” kita saja, karena di lingkungan masyarakat kita, kebanyakan perempuan belum mengenakan pakaian yang menutup aurat dengan benar.

Lepas dari itu semua, goresan ini hanya sebatas curahan hati untuk mencoba melakukan fungsi saudara sesame muslim,untuk saling mengingatkan. (nta)

Selengkapnya.....

Tuesday, July 21, 2009

Catatan Kecil Tentang Eyang Guru


Serial “ Ketika Tembok Runtuh dan Bedil Bicara” mungkin pernah di akrab bagi kita sekitar tahun 1999 saat menjadi sebuah cerita bersambung di HU Republika. Tiga tahun kemudian kisah itu dibukukan dan dicetak ulang pada tahun 2005. Sebuah kisah dengan bahasa lugas yang menguraikan juga mengenai kehidupan aktivis pelajar dan mahasiswa. Menarik juga melihat tokoh-tokoh yang dikisahkan adalah aktivis HMI, PII, GSNI, dll. Secara content isinya mungkin masih terbilang standart mengenai kisah cinta anak muda. KIsah cinta segitiga tetapi segitiga-nya itu dengan idealisme ^-^. Tidak ada bahasa-bahasa “sastrawi” yang sulit dicerna. Disana kita menemukan sebuah kisah realis yang sarat makna namun tetap bersahaja.

Kesederhanaan penguraian kisah dalam novel “ Ketika Tembok Runtuh dan Bedil Bicara” itu nampaknya memang mencerminkan penulisnya yang juga sangat bersahaja. Malam itu dengan balutan batik, kain sarung yang rapih dan selempang sajadah di bahu-nya, Pak S.N. Ratmana menyambut kami dirumahnya. Baru saja akan membuka gerbang rumah, dari arah belakang ternyata Pak Suci-panggilan yang biasa digunakan-telah menyapa kami. Nampaknya pak Suci usai menunaikan rutinitasnya menjadi imam sholat Isya.

Bangunan itu masih bersahaja, sama seperti tiga tahun lalu terakhir saya bertandang kesana. Pengaruh usia sempat membuat pak Suci tidak terlalu mengingat siapakah tamunya malam itu. Ya, bagi saya pak Suci Ningrat Ratmana memang sosok yang luar biasa, tapi bagi pak Suci, sosok shinta itu ya biasa saja,sama seperti cucu-cucunya yang lain. Ketika saya coba ceritakan kembali aktivitas-aktivitas terdahulu bersama pak Suci baik di kota kelahiran maupun di ibukota, pak Suci menjadi agak ingat dan memberikan sebuah antusiasme yang berarti. Sinar mata tua-nya sangat menyorotkan sebuah kasih sayang dan antusiasme saat saya menceritakan maksud dari kedatangan di malam hari itu.

Dengan agak tergopoh-gopoh pak Suci masuk kedalam rumahnya dan keluar kembali menemui saya dengan membawa sebuah buku tebal. Ternyata itu adalah sebuah tanda mata yang sangat berkesan dari sebuah penyair yang kondang, Taufik Ismail. Ya, mungkin sudah menjadi mindset saya jika akan bersilaturahmi ke Pak Taufik maka saya awali dengan ke pak Suci terlebih dahulu. Hal ini tidak berlebihan karena beliau berdua memang memiliki sebuah tali persahabatan yang sangat manis. Persahabatan yang hingga sekarang masih terjalin erat. Salah satu bukti kecil yang menjadi perekat persahabatan mereka adalah sebaris pernyataan di cover buku antologi puisi tersebut. Tak lupa juga pak Suci menunjukkan salah satu puisi yang berjudul ‘Surat Dari Lampung’. Dibawah temaram sinar bohlam beliau membacakan puisi itu.

Sosok seorang Suci Ningrat Ratmana, bisa dikatakan sosok yang istimewa di dunia sastra Indonesia. Pria sunda yang lahir di tahun 1936 ini telah memberikan sebuah semangat mengenai produktivitas karya bagi para generasi muda. Kecintaan beliau kepada sastra mungkin dimulai saat duduk di bangku SMA N 1 Pekalongan, satu sekolah dan satu bangku dengan Taufik Ismail. Duo genius ini ternyata memiliki hobi dan ketertarikan yang sama di dunia sastra. Mereka yang merintis adanya sebuah perpustakaan sekolah yang sederhana serta gambaran sosok pelajar yang kritis dan cerdas. Siapa sangka kecintaannya pada membaca membawanya menjadi sastrawan-sastrawan ulung. Hingga kini, pak Suci sendiri sudah menelurkan banyak novel, cerpen, dan esay. Novel terakhir yang diterbitkan oleh penerbit KOMPAS, adalah “Sedimen Senja”, yang di-launching di Taman Ismail Marzuki dua tahun yang lalu. Tentu saja dihadiri oleh sahabat sejati-nya, pak Taufik Ismail serta dibedah juga oleh salah satu kritikus sastra , Maman S Mahayana. Seingat saya waktu itu launching itu juga sebagai peringatan hari lahir pak Suci yang genap berusia 70tahun.

Sangat brilian di usia-nya yang separuh baya tersebut,pak Suci masih getol melahirkan karya-karya sastra. Bukan berhenti pada novel saja, cerpen-cerpennya hingga sekarang masih bisa dinikmati di beberapa harian baik local maupun nasional. Ketika beliau menunjukkan kepada saya beberapa copy-an cerpennya di surat kabar, saya pribadi menjadi iri sekaligus termotivasi oleh semangat pak Suci dalam berkarya.

Maestro yang rendah hati. Saya bisa menjulukinnya seperti itu. Bercengkerama ngobrol dengan pak Suci jangan dibayangkan ngobrol dengan orang terkenal yang mungkin kita akan terjebak pada ewuh pakewuh. Bersama beliau, saya tak lebihnya seperti cucu dan kakek yang sedang bercengkerama dengan sarat susasana kekeluargaan. Walaupun sebelumnya mungkin kita sudah sekian tahun tidak memiliki kontak yang dekat. Bahkan dulu waktu sempat berinteraksi saya masih menjadi orang yang belum terjun di dunia sastra secara langsung. Jadi dulu hubungannya sebatas link saja. Namun, ketika pertemuan pertama setelah tiga tahun itu, membuat saya seperti menumpahkan kerinduan pada seorang kakek. Layaknya seorang kakek pada cucunya, banyak hal yang disampaikan tentunya dengan limpahan kasih sayang. Bahkan ketika saya bercerita esay saya yang masuk nominasi lomba dan dibuku-kan serta beberapa karya-karya yang lainnya, tanpa tanggung-tanggung pak Suci bertepuk tangan memberikan apresiasi. Subhanalllah, apresiasi itu sungguh spontan dan sangat tulus,sebuah kebanggan dan semangat bagi saya pribadi. Keagungan sikap seorang sastrawan adalah saat dia benar-benar menghargai karya orang lain. Itulah beberapa hal yang saya dapatkan di dunia sastra. Semakin tinggi karya seorang sastrawan, semakin merunduk pula dalam memberikan apresiasi yang mendalam terhadap karya orang lain.

Satu hal yang istimewa lagi dari pak Suci, beliau adalah sosok sastrawan yang juga seorang pendidik. Ya, dia menjalani hidupnya dengan profesi sebagai pengajar. Beliau adalah guru fisika di SMA N 1 Tegal di era tahun 60-an, kemudian menjadi pengawas di depdikbud kota, hingga beliau menghabiskan masa profesinya. Sebagai seorang guru, beliau ada sosok pengajar yang mengayomi dan benar-benar menjadi sosok yang mampu digugu dan ditiru. Selain sebagai guru, pak Suci juga aktiv di organisasi Muhammadiyah yang mengantarkannya kini menjadi wakil ketua pengurus daerah Muhammadiyah.
Kiprahnya di dunia pendidikan tidak berhenti di profesi guru. Pak Suci ini juga salah satu perintis majalah pelajar “Kandela” di kota Tegal. Hidupnya memang sudah didedikasikan pada pendidikan. Selain sempat menjadi dewan pendidikan,beliau juga sering menjadi rujukan oleh para tim MGMP dan untuk persoalan-persoalan pendidikan. Sosok beliau sebagai Guru yang juga sastrawan memang sangat luar biasa. Tak heran kehidupan dan karyanya juga dijadikan sebuah skripsi oleh mahasiswa sastra di Universitas Indonesia. Mungkin pak Suci memang benar-benar eyang guru buat kita semua.
Sebagai seorang sastrawan, pandangan seorang S.N. Ratmana cukup luas. Bukan hanya soal pendidikan, namun beliau juga punya pandangan-pandangan di hal-hal mengenai politik dan budaya. Tulisannya tentang Bung Karno pernah dimuat dan dibukukan oleh KOMPAS. Kupasan pemikirannya melalui tulisan memang lugas dan untuk karya-karya diksinya memang cukup realis. Pak Suci tak ragu-ragu untuk mengungkapkan “kebiadaban” Jenderal Wiranto dan Prabowo dalam novel-nya. Untung saja novel itu terbit di waktu yang tepat. Kalau ditulis di era orde baru mungkin sampai saat ini novel itu tak pernah diterbitkan.

Semangatnya berkarya yang jelas tersirat dari soro matanya memang menjadi ruh bagi para genarasi muda untuk dapat terus berkarya. Pak Suci sangat mensupport ketika saya bercerita berpuluh-puluh kali tulisan ditolak media. Dari sepuluh mungkin yang dimuat Cuma satu. Pak Suci bilang, itulah proses indah yang harus dijalani. Ya, seorang nahkoda yang baik itu tak terlahir dari lautan tenang tapi justru yang sudah terlatih dengan bergulung-gulung deburan ombak. Waktu pertemuan itu, tak kurang dari sepuluh buku yang beliau keluarkan untuk ditunjukan. Di sela-sela saya diminta membaca beberapa paragraph cerpennya. Bergantian pula beberapa kali pak Suci membacakan kutipan-kutipan esay-nya.
Banyak hal yang kita obrolkan malam itu walaupun itu masih sebagian kecil. Berdiskusi dengan pak Suci memang seperti teman sebaya, beliau masih tajam wacana-nya dan luas pandangannya. Sikapnya tidak ekstrim walaupun untuk beberapa hal dia terlihat sangat prinsipil. Dari mulai ngobrol tentang Taufik Ismail, tentang sastra, pendidikan, budaya, hingga politik, dan juga gerakan mahasiswa. Sempat dia memberikan pandangannya mengenai Anas Urbaningrum, Prabowo, Megawati, dan yang lainnya. Sempat juga dia berbicara tentang HMI, PII, dan gerakan mahasiswa. Ah pak Suci, kau benar-benar menyemangati ^_^.

Tak cukup ratusan halaman untuk menguraikan makna hidup dan kehidupan dari seorang eyang guru SN Ratmana.(sebuah hal yang menginspirasikan saya juga untuk menulis sebuah buku autobiografi tentang beliau). Malam itu pertemuan yang menghadiahkan bangkitnya sebuah semangat. Namun malam memang terkadang menegur kita untuk beristirahat. Saat lonceng jam di rumah pak Suci berdentang Sembilan kali, adikku mengingatkan bahwa sudah waktunya pulang. Oya, sempat bertanya pula pak Suci “Siapa ketua HMI sekarang”. Teringat sesuatu saya jawab “ Oh iya pak...ketuanya yang sekarang kalau tidak salah juga alumni smansa Pekalongan”. Reaksi beliau cukup antusias “ Ohya???Siapa??angkatan berapa??”. Ketika saya ungkapkan jawaban yang lebih kepada perkiraan itu, respon belian “Wah jauh sekali itu angkatannya”. Mungkin cuplikan dialog ini terlihat tidak penting, namun saya ingat bagaimana kemudian perdebatan mengenai “terlalu senior”nya ketua PB yang baru. Tapi berdiskusi dengan pak Suci saya tidak merasa beliau sangat senior. Satu pelajaran bagi saya, ternyata tua-muda itu akan menjadi samar ketika kita punya karya. Mungkin kalau di HMI, kader-kader angkatan 99 atau 2000 itu sudah seperti senior banget, tapi ketika seorang angkatan 97 muncul, itu seperti hadirnya kader muda. Semoga itu menjadi sebuah semangat dalam berkarya!obat awet muda yang mahal harganya ^_^.
Kuakhiri pertemuan malam itu. Di perjalanan pulang , ungkapan adik saya “ Mbak nta, ajarin nulis yach!”. Wah...itu semangat lagi bagi saya!!! Yuk...kita bersemangat untuk terus berkarya dan berprestasi!! Ganbatene Kudasai!!!!!!

Special dedication for Eyang Suci Ningrat Ratmana.
Hari ahad tanggal 26 besok ada diskusi kepenulisan menghadirkan pak Suci dengan beberapa penulis kondang lainnya, di pendopo kota Tegal. Bagi yang berkesempatan silahkan hadir, insya Allah ada saya disana untuk menyumbangkan beberapa pembacaan puisi..he3 (numpang promo).

Selengkapnya.....

Friday, June 12, 2009

Serantai Bait Tentang Kongres HMI ke- XXVII


-- mungkin di tulisan ini ada goresan-goresan kisah yang tak sempat terexpose media, saya bagi menjadi tiga episode--

" Pada akhirnya segala lelah, marah, sedih, kecewa, terlupakan oleh bait asa....mari bangkit!"

Tentang Kongres dua puluh tujuh...
Ini kongres pertamaku. Bagi pengurus cabang Purwokerto, sebagian besar juga merupakan pengalaman pertama. Kata orang cinta pertama itu tak mudah dilupa. Benar, kongres ini juga menumbuhkan cinta pada alat prjuangan ini. Sebagai sebuah gelaran dwitahunan, yang memiliki hierarkri paling atas dalam struktur kekuasaan di HMI. tak berlebihan rasanya jika kita mengharap sebuah perubahan dalam paradigma gerakan yang lebih baik. HMI yang lebih baik...itu bukan sekedar harapan namun keHARUSan.
Tulisan ini saya tulis dengan segala kisah kecil yang mungkin tak terekspoxe oleh media.

Ratusan kader, ratusan harap, itu idealnya. Ratusan ide brilian siap berkumpul dan sinergis untuk memantapkan gerakan.
Sidang pendahuluan menjadi peluit panjang dimulainya pertempuran itu. Namanya orang mo olahraga..harus pemanasan dulu. Kalo berenang gak pemanasan dulu, ntar kram di tengah kolam. Kalo mo sprint gak pemanasan terlebih dulu ntar bisa cedera juga. Harapannya juga seperti itu. Waktu itu di benak saya adalah teman-teman seluruh Indonesia telah menyiapkan konsep perubahan HMI. Makanya saya juga pernah menyinggung "pernak-pernik" HMI yang belum diterima oleh cabang-cabang. Hal ini sangat riskan karena akhirnya di meja sidang, kita semua hanya bermain emosi dan egoisme saja. Lebih banyak menuntut daripada menyampaikan sebuah pemikiran.
LPJ PB..dalam sessi tanya jawab yang lebih banyak bergulir dan ramai hanyalah seputar hal-hal teknis seperti : telpon, email, dll. Ditambah lagi jawaban PB yang lebih bersifat apologi. Ketika saya menanyakan SK, sbrnnya itu sederhana saja, kapan teman-teman PB siap untuk memberikan dokumen resmi Sk para cabang. Kalau malam itu bisa, tinggal ketik, print, dan tandatangan, saya rasa itu menjadi bentuk rasa tanggungjawab PB. BUkan berapologi dengan sejuta alasan apalagi dengan alasan komputer kena virus. Suer, kalo kisah ini diexpose akan sangat memalukan. Saat ini hampir sebagian besar cabang, tidak memiliki dokumen resmi SK kepengurusan. Ini sangat-sangat fatal. Ini bukan persoalan teknis, tapi persoalan tanggungjawab akan kinerja masing-masing. Walaupun kongres sudah usai, saya berharap tanggungjawab ini bisa diselesaikan dengan secepatnya.

.

Sessi tanya jawab yang bergulir lebih kepada penggugatan secara teknis yang itu diakibatkan oleh miscommunication saja. Masalah pemecatan Itho Murtadha, dana diknas, dan lain-lain. Hampir lebih dari separuh waktu di sessi tanya jawab itu, dipenuhi oleh emosi dan egoisme cabang-cabang tertentu saja. Kebetulan waktu itu yang bersuara lebih banyak adalah teman-teman cabang timur dan utara. Bukan saya mendiskreditkan teman-teman di intra dan intim, namun kenyataan yang terjadi di arena kongres adalah, teman-teman lebih banyak berputar di wilayah teknis dan memainkan emosi. Mungkin ini juga menjadi salah satu akibat dari tidak optimalnya pembagian draft kongres pada sleuruh cabang. Pada akhirnya, draft kongres dari TPK tidak digunakan dan ditolak. Ketika tidak ada draft, masalah yang muncul ternyata ada tiga versi konstitusi dari Semarang, Jogja, Makasar. Padahal draft dr TPK itu telah disusun lebih dari dua bulan dan mengakomidir perbedaan2 konstitusi tersebut. Lagi-lagi permasalahannya pada komunikasi antara Roni HIdayat (Koord.TPK) dengan Bang Madjid Bati (MSO). MSO merasa tidak pernah menerima permohonan amandemen, padahal TPK telah melakukan itu secara prosedurial, dihibungi melalui telpon, dikirm melalui email, dll. Lagi-lagi yang jadi alasan adalah, email yang eror dan tidak ada data draft kongres yang diterima. Miris !!!!!!!!!!!

Pembahasan konstitusi, sebenarnya merupakan sessi penting dalam perjalanan sebuah organisasi. Dari jauh-jauh hari sebelumnya, di benak saya tergambar bahwa teman-teman kader HMI selruh Indonesia telah mempersiapkan ide-ide briliant-nya mengenai paradigma gerakan organisasi ini. Mungkin masih ingat mengenai ide rekonsiliasi yang pernah saya getol tulis? Itu bukan sekedar isu sesaat, namun coba saya kaji dari berbagai segi, historis, filosofis, sosiologis, politis,dan teknis. Saya tambah bersemangat lagi ketika tau ada ide ganti nama yang akan coba digulirkan. Bagi saya, semua ide itu sungguh-sungguh. Jujur saja, saya sudah mempersiapkan uraian kenapa kita jangan ganti nama dan harus rekonsiliasi, dengan segala alasan yang dapat diuji secara keilmuan (ada power point-nya.. dibuat sampe nglembur di sekre Mafaza ..he3). Sebenarnya hal ini harusnya disampaikan pada sebuah lokakarya, karena kongres hanya bersifat memutuskan saja. Tapi karena lokakarya tak pernah kunjung ada, ya maka kucoba persiapkan untuk kongres.
Tapi, semua tinggal kisah belaka. Karena ternyata teman-teman cabang lain tidak pernah mencoba membuat sebuah inovasi gerakan untuk disampaikan di kongres. Bahkan saya sempat berfikiran ini adalah sebuah kesengajaan untuk meminimalisir perdebatan mengenai konsep, sehingga pada akhirnya yang terjadi adalah berputar-putar pada hal redaksional yang bersifat teknis.
Jujur aja, hari kedua, pembahsan AD membuat bete banget! Bertambah bete, karena melihat kenyataan bahwa ternyata sebagian besar peserta kongres justru meninggalkan ruang sidang hanya untuk konsolidasi suksesi calon ketum. Hati saya begitu marah saat itu!!! Segala umpatan berkecamuk dalam batin! Apa-apaan ini???? Forum kongres yang membahsa hal-hal mendasar malah ditinggalkan untuk sebuah suksesi. Lucu lagi, ketika salah satu kawan bilang : " Bagi kita, AD ART dan yang lainnya tidak perlu dibahas, tidak ada yang salah, yang penting..siapa nanti yang akan jadi ketum, siapa nanti pemimpinnya" .
Weleh..weleh. .. ini nieh efek dari generasi "Idol". Di kongres ini kita menghimpun mimpi, ide, dan segala potensi untuk memperkuat pondasi gerakan. Mimpi kita saja sudah tak punya, pondasi kita sudah bobrok, dipimpin oleh siapapun , akan ttap hancur. Akhirnya semua menjadi ekspresi syahwat kekuasaan belaka.

Tentang Pemilihan Formatur...
Siapapun tak bisa menampik, secara kapabilitas, Mas Chozin sangat pantas menjadi ketum PB HMI. Jangankan menjadi ketum PB, jadi presiden Indonesia pun mas chozin pantas. Dengan segala potensi yang dia miliki, saya rasa Mas Chozin adalah salah satu kader yang dapat kita banggakan di HMI.
Namun, HMI adalah sebuah organisasi perkaderan dan perjuangan. Kaderisasi adalah pondasi organisasi berlambang perisai hijau hitam ini. HMI bukan organisasi jaringan atau profesional, walaupun karya-karya kita harus disalurkan dengan kemampuan jaringan dan profesionalitas.
Maka, yang menjadi pertanyan, apakah kita yang memang sudah lelah dengan perkaderan di HMI ini, atau mas Chozin yang sudah mati orientasi kekaryaan beliau sehingga masih melihat posisi ketum PB sebagai pijakan???!. Tapi hal itu biar menjadi pertanyaan di hati kita masing-masing.

Munculnya nama mas chozin sebagai calon ketum bukan sebuah hal yang baru. Kalau tidak terexpose, mungkin itu sengaja. Dukungan teman-teman indonesia timur dan utara menjadi kekuatan utama dari naiknya mas choz di pentas kongres kemarin. Secara psikologis, wajar kalo teman-teman intim dan intra menaruh harap pada sosok yang juga menjadi moderator di milis HMI ini.
Selain teman-teman intra dan intim, bagbar juga menjadi sayap yang sangat mendukung naiknya sang alumnus Ohio- USA ini. Kondisi psikologis teman2 intra dan intim yang masih kecewa dengan kepengurusn PB kemarin dilengkapi dengan kultur pragamtisme dalam politiknya teman-teman inbagbar. Saya rasa ini gk bisa dielakan oleh siapapun. Sialahkan membela diri tapi kenyataan berkata demikian, pragmatisme adalah kultur yang sudah melekat di sebagian besar teman-teman bagian barat. Fitnah dan gosip murahan kadang dijadikan alat untuk mencapai keinginan. Entah fitnah apa saja yang sudah diberikan kepada calon ketum lain selain chozin.
Kalau memang tidak begitu, coba saja tanya, apakah mereka punya konsep untuk membangun HMI ini lebih baik. Nonsens! Mereka hanya punya strategi politik. Konseptual yang dibangun hanya berputar pada wacana. Sebenarnya potensi politik mereka baik jika dapat dikembangkan dan tetap diarah yang benar. BUkan dengan menghalalkan segala cara. Karena HMI juga bukan organisasi politik.

Inbagteng yang kuat dengan intelektualnya juga harus mengakui ketidaksolidan- nya. Dari dulu mungkin orang2 tengah yang terlalu polos dengan politik. Keilmuan dan keIslaman itulah yang kemudian menjadi pilar gerakan di bagian ini. Kemarin sebenarnya cukup kuat ketika dalam dukungan ke Azwar, walaupun agak terlambat mengkonsolidasikan gerakan. Bagian tengah juga dianggap yang "menggembosi" kinerja PB dua tahun yang lalu. Astaghfirrulah, masih ada yang tega menganggap seperti itu. Padahal kalau kita tengok, siapa saja yang kemudian berperan membangun pondasi kinerja PB selama dua tahun kemarin. Dari mulai pleno I, II, III, event2 yang ada di PB, melakukan fungsi-fungsi komisi dengan baik, kebanyakan juga teman-teman tengah. Mas Azwar, mas uud, mas trisno, sampai mbah Muhyidin, semua menjadi martir dalam perjuangan kemarin walaupun pada akhirnya semua tertutup oleh pola komunikasi yang buruk oleh Ketum. Namun, bang Syahrul juga bukan tak berusaha sebaik mungkin. Di kesempatan kali ini, (walau sudah saya sampaikan di kongres kemarin juga), saya menyatakan terimakasih dan sangat salut , apresiasi yang sangat tinggi untuk kinerja teman2 tengah yang ada di PB. Kalau kemarin ada penolakan LPJ itu murni sebagai sebuah pembelajaran untuk berusaha ke yang lebih baik. Kalau kita menerima,juga atas dasar yang kuat, bukan semata-mata karena ada orang2 bagian kita yang ada disana. Dukungan kita bukan sebatas pada penerimaan dan penolakan LPJ, tapi perhatian kita yang penuh.
Ups, agak ngelantur ya. Kembali tentang calon ketum PB. Sebenarnya saya udah speechless. Mo bilang apa? Semua terjadi karena emosional saja.
Mas Chozin secara konstitusi tidak sah untuk maju menjadi calon formatur. Beliau LK I pada tahun 1997, Sudah hitungan tahun ke-12 menjadi kader..dan itu berarti sudah alumni. Hal ini sudah disampaikan di kongres. Mengenai ayat kedua di konstitusi ttg peraturan masa keanggotaan, mas Chozin saat ini tidak menjabat apa-apa dalam kepengurusan di HMI. Kalau ada di HMINews, beliau adalah direksi PT.Kapisentra, bukan bagian dari HMI.
" Kenapa nggak ngomong di kongres kemarin shin?"
Ya, itu dia yang saya sesalkan hingga saat ini. Bukan saya nggak berani ngomong, tapi memang suasana saat itu sudah diliputi emosi. Adzan Shubuh sudah memaksa semuanya untuk menyudahi perdebatan. Ketika saya kembali dari sholat shubuh, ternyata semua sudah berkahir. Keterlambatan ini sangat saya sesalkan hingga pulang ke Purwokerto. Secara tidak langsung, saya dan konstituent kongres telah mengkhianati konstitusi kita sendiri. Padahal baru semalam kita mengesahkan konstitusi, berdebat mengenai contents yang ada dalam pedoman perkaderan, keanggotaan, dll.
Di kongres pertama ini, saya baru merasakan kesungguhan dan kecintaan yang penuh pada HMI. Saya rasa semua kader akan merasa sedih dan kecewa atas adanya inskonstitusional ini, jika mereka memang bersungguh-sungguh membangun pondasi gerakan ini.
Saya pun masih yakin mas chozin dan cabang Sleman tak pernah punya niat untuk mematikan perkaderan. Kalau katanya ada kabar untuk mematikan hegemoni sebuah golongan tertentu di kampus UGM, ya semoga mereka menganggap bahwa cara menaikkan mas Chozin di ketum PB menjadi cara yang terbaik. Walaupun dulu di awal saya bilang, " Tanpa menjadi ketum PB, mas Chozin dapat berkontribusi banyak di HMI".

Mungkin Agak lebai kalau tau , ada air mata yang sempat menetes di beberapa kader yang menyesalkan pemilihan formatur ini. Menangis karena matinya perkaderan, dan menangis karena tak dapat berbuat banyak. Namun karena perkaderan pula, kita harus bangkit.

Kemenangan mas Chozin juga tidak mutlak. Bahkan selisih dengan mas Azwar hanya sedikit (tiga suara). Lucunya lagi, ada sms tak dikenal kepada saya dengan mengatakan "tiga suara itu?" . Saya paham maksudnya, terserah mau berasumsi apa. Yang pasti, bagi saya dan juga teman-teman Purwokerto, perkaderan adalah pondasi dari organisasi ini. Dengan selisih suara yang sedikit itu, menjadi PR besar bagi ketum PB saat ini, bahwa selain dukungan besar, saat ini juga ada kekecewaan yang besar. Bahkan beberapa sempat berkata " Ah..sudahlah. .kalau kayak gini..saya outsider saja". Masih tanda tanya, apakah para personil MSO itu mau untuk menerima tawaran itu. Atau teman-teman yang seharusnya bisa masuk di PB. Beberapa selentingan juga ada yang enggan untuk membantu di PB.

Tapi, saya rasa...lepas dari itu semua. Kecelakaan perkaderan ini kita ikhlaskan saja. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Toh pada akhirnya, kecewa, sedih, lelah, dan marah, harus terhapuskan oleh sebuah asa akan sebuah cita. Di HMI itu cuma belajar ikhlas..mengikhlask an segalanya. Termasuk mengikhlaskan sebuah kematian kader. Yang terpenting adalah berkarya.

Justru kita berterimakasih pada mas Chozin yang masih mau untuk turun langsung di kancah perjuangan ini. Saya rasa itu perlu pemikiran yang sangat dalam, untuk mau terjun langsung.

Toh, PB bukanlah segalanya. Saya sebagai pengurus cabang juga menyadari bahwa ternyata kongres itu hanyalah sebagai sebuah bentuk politisasi saja. Cabang Purwokerto masih menantikan sejuta ide dan karya. PB bukanlah segalanya, ujung tombak gerakan ini ada di komisariat dan cabang. Satu pesan sms dari salah seorang kandidat ketum " ...bahwa teman-teman di cabang nggak boleh patah semangat! Pejuang itu tak boleh sedih dan kecewa. Jadikan semua momentum untuk bangkit...."

Sekali lagi air mata ini mengalir, tapi bukan sedih...melainkan sebuah semangat, bahwa asa itu harus tetap ada. Bahwa ini justru awal perjuangan kita semua.

Tentang Penutupan Kongres XXVII......
Miris. Nggak sebanding dengan pemberitaan media, sebenarnya upacara penutupan kongres kemarin adalah memperalat untuk kampanye JK saja.
Saya tidak tahu apa yang bisa disebut dengan kebanggaan pada acara penutupan kemarin? Apakah kita yang terlalu katro dengan segala kemewahan dan publisitas itu?
Saya yang memilih duduk di belakang, melihat ke-katro-an itu semua. Kita dengan seenaknya diatur-atur untuk sebuah protokoler kenegaraan saja. Hal-hal kecil, misal pakaian bang Syahrul yang kurang formal, atau tata duduk teman-teman peserta. Semua diatur-atur. Yang pake celana jeans atau kurang sopan jangan duduk disamping, nggak sopan! Saya hanya terkekeh dalam hati. Perasaan saya pernah mengikuti beberapa event yang dihadiri oleh pejabat penting nggak seekstrim itu. Waktu festival sastra internasional di Batavia Hotel, tak ada aturan2 seperti itu. Tau sendiri kan gimana penampilan para sastrawan?? Tapi..itu semua dibiarkan karena kita punya karya untuk diapresiasi. Sastrawan-sastrawan itu memang dihargai ,punya karya, jadi nggak bisa seenaknya diatur-atur protokolernya. Tapi kalau di penutupan kongres kemarin, JK yang dihargai, bukan JK yang menghargai. Kesannya memang seperti JK yang menghargai HMI karena sudi hadir. Tapi sebenarnya HMI lah yang menghargai JK karena dibela2in menutup acara hanya karena pada jam itulah JK sempat untuk mampir. Padahal, acara penutupan itu juga inkonstitusional. Masih ada dua sidang lagi yang belum terselesaikan. Berdasarkan pedoman keprotokoleran, acara penutupan kemarin itu ya nggak bener. Sekali lagi, kita sudah mengkhianati konstitusi kita sendiri. Itu padahal baru beberapa menit lho disahkan dalam kongres, Bagaimana kdepannya???
Semoga bisa menjadi pelajaran...

Tentang Sebuah Karya....... .
Dari segala potret buram di kongres kemarin, sebentuk mimpi, asa dan cita-cita masih terus akan bergulir...dan itu sempat terangkum dalam sebuah buku kecil berjudul : "HMI : Keabadian dan Inovasi Gerakan". Tersusun atas empat bagian, : HMI dan Pemikiran KeIslaman ; HMI dan MOdernitas; Kohati dan Rekayasa Sosial; Dinamika Politik Kontemporer. Di dalamnya termuat ide-ide yang bukan hanya menjadi sebuah "keabadian" namun juga merupakan bentuk inovasi gerakan yang merupakan bait asa dan cita kader. LIma belas kader yang turut rembug menulis dalam buku ini yaitu : Zubaeri; Maksun (Cak Sun); Shofa Sadulur; Ahmad Nuralam; Angga Yudhiansyah; Ahmad Sahide; Darwin; M.Syamsul HIdayat; Ade al-Ghazaki; Dusrinah, SH; Shinta arDjahrie (^_^) ; Novi Kurnia; Kusuma Dewi Subakhir; Lukman Hakim,Moh.Syafe' i; dan Zulkarnain Patwa.
Sebenarnya kalo diliat-liat. .penulisnya itu orang-orang dari cabang Jogja, atau diistilahkan sebagai sebuah bentukan karankajen. Kecuali saya tentunya. Karena ke sekre Karangkajen aja baru satu kali...he3. Tapi, lepas dari itu semua, ini adalah sebuah bentuk pemikiran yang coba diabadikan melalui tulisan. Dengan editing yang handal oleh Ahmad Nuralam dan Ahmad Sahide, buku ini dikemas apik dan patut mendapatkan rekomendasi bagus untuk konsumsi para kader. Untuk teman-teman yang berminat, bisa menghubungi teman-teman cabang JOgja, hanya Rp 20.000,00. Saya juga lampirkan scan cover dari buku tersebut. Bukan sekedar numpang promo, tapi lebih meyakinkan, bahwa kita masih dan akan terus punya asa untuk berkarya..baik itu melalui tulisan ataupun karya-karya lain.

Btw, saya ingat postingan bang Ferizal Ramli di milis brapa waktu lalu tentang pengembangan IT opensource. Mungkin bisa disampaikan idenya mas, karena di PKN (Program Kerja Nasional) PB HMI, kemarin di kongres sempat disahkan adanya sebuah program untuk pengembangan rekayasa teknologi informasi. Apalagi kalo kita liat tingkat kegaptekan temen2 kader sangat memprihatinkan. Terlihat dari permasalahan yang menjadi peredebatan di LPJ PB maupun LPT MSO,adalah masalah komunikasi lewat phone or email. Memalukan memang..tapi saat ini bukan saatnya untuk malu...tapi untuk bangkit.

Yup..sementara hanya sampai ini mungkin rantai bait kongres XXVII ini saya posting. Kongres yang menumbuhkan cinta mendalam, bahwa HMI ini hanyalah sebuah alat tapi tak dapat digantikan oleh alat apapun.
Yakin Usaha Sampai!!! (nta)




Selengkapnya.....

Saturday, April 25, 2009

Life is Never Flat!



Era global adalah keniscayaan perkembangan zaman yang akan dihadapi. segala era memilliki chalenge value yang menuntut sebuah sikap moderntias jika kita masih ingin survive. pendidikan adalah substansi primer yang memberikan sebuah proses humanisasi untuk kita mampu progresif. Era global menuntut sebuah keluasan pandangan dengan menghilangkan friksi-friksi yang selama ini hanya mendikotomikan kehidupan manusa.Singkatnya, di era global : life is never flat!


Sebuah kebebasan friksi ini membuat kita membutuhkan sebuah proses pembebasn yaitu pendidikan. Pendidikan yang mampu membuat kita menatap secara global dan komprehensif tantangan-tantangan yang akan muncul. Pendidikan yang membebaskan mensyaratkan adanya sebuah penempatan pendidikan pada prioritas kebbutuhan. Kita harus bisa mendapatkan akses pendidikan yang benar-benar esensial. Bukan pendidikan yang "coba-coba". BUat Pendidikan Kok Coba-coba? ^_^
Negara Belanda memiliki sistem pendidikan yang tepat posisi. Pendidikan tepai posisi mengisyaratkan sebuah sistem yang diselenggarakan secara bertanggungjawab, yang merupakan mekanisme tanggungjawab pemerintah sebagai mandataris kekuasaan rakyat. Hal ini berkonsekuensi pada terjaminnya akses pendidikan. Salah satu indikasi terjamin dan berkualitasnya pendidikan adalah penyediaan anggaran pendidikan yang sesuai kebuuutuhan.
Indonesia dalam pengelolaan bangsa belum menempatkan pendidikan sebagai pijakan uatama. Berbeda dengan Belanda yang memiliki political will dalam pembaharuan pendidikan. Pada tahun 1996, anggaran pendidikannya mencapau 7 persen dari PDB atau 37 persen dari APBN. Belandddda merupakan negara kesejahteraan yang pendapatan negaranya hanya untuk membiayai lima hal : 1) Pendidilan, 2) Kesehatan , 3) Pertahanan Negara, 4)Administrasi Negara, dan 5)Infrastruktur dasar.
Terjaminnya pendidikan merupakan sampan yang akan membawa kita pada lautan globalisasi dengan nyaman. Era Global juga mensyaratkan terlepasnya friksi-friksi kesenjangan dalam pendidikan. Kesenjangan apapun dalam dunia pendidikan, baik geografis maupun ekonomi, sosial-budaya. Sesungguhnya di era global sudah tak dikenal lagi pendidikan "bertaraf internasional", "sekolah nasinal plus-plus" dan lain-lain. Tiap sistem pendidian di masing-masinng negara memiliki nilai tambah tersendiri yang itu dikokohkan untuk mampu memiliki bargaining position di mata dunia. BUkan bargainin position untuk menjual pendidikannya, melainkan bargaining position negara secara luas serta bargaining position SDM outputnya. Tidak ada persaingan dalam pendidikan, yang ada hanyalah persaingan SDM output dari sebuah sistem. Maka kita harus dapat menggali semakin banyak ilmu, dimanapun. Pendidikan nasional yang terjamin membuat proses pembelejarannya lebih efektif. Parameter terjamin dapat dilihat dari kebijakan-kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan. Belanda telah menempatkan pendidikan sebagai salah satu prioritas primer dalam keberlangsungan sebuah pembangunan. Dalam sistem yang tepat posisi , insan peserta didik akan dapat merasakan sebuah proses humanisasi, pembebasan karena disitu peserta didik adalah subjek bukan sebagai objek pendidikan.
So, selain rajin belajar di negeri sendiri, yuk kita gali ilmu dari negara-negara lain juga untauk dapat melihat keanekaragaman dunia. Cause this life is never flat,guys! Lets to reach more....^_^

-nta-
250409

Selengkapnya.....

Sunday, April 05, 2009

Rekayasa Teknologi Informasi Berbasis Masjid

Kalau kita sering berwacana mengenai gurita kapitalisme yang telah mencengkeram begitu erat, maka PR terberat bagi para pewacana adalah bagaimana solusinya? Perkembangan teknologi yang menjadi warna dari modernisasi zaman adalah salah satu bentuk komoditi para kapitalis. Murninya Sains for sains sudah mulai pudar, semua menjadi sasaran untuk bagaimana mendapatkan keuntungan semata. Kekuatan untuk menghadapi ini adalah dengan mengembangkan daya kreasi dan inovasi dalam dunia teknologi khususnya teknologi informasi.



Membangun teknologi informasi berbasis open source melalui pemberdayaan adalah sebuah visi yang coba dirintis oleh beberapa pemuda(i) yang tergabung dalam Puskom MAFAZA (Pusat Komputer Masjid Fatimatuzahra). Berawal dari pemikiran-pemikiran yang sederhana dengan semangat perlawanan terhadap kapitalisme dalam perkembangan teknologi informasi, kita mencoba berkarya dalam dunia TI. Perkembangan teknologi adalah untuk semua, bukan sebuah hal yang eksklusif dan tak dapat disentuh oleh masyarakat. Teknologi bukan sebuah hal yang mahal yang semakin memperluas kesenjangan sosial masyarakat bahkan . Puskom Mafaza melakukan inovasi di tahun ini dengan membangun sebuah Pusat Pengembangan Keahlian Rekayasa Teknologi Informasi. Dalam dua pekan kemarin - dimulai sejak tanggal 29 Maret yang lalu- , telah melakukan open recruitment untuk divisi COC (center of Competency) IT Service, yang terdiri dari COC Aplikasi, COC Operating System, COC Database, COC Hardware, COC Elektronika, dan COC Network. Teknis kerja COC ini adalah seperti konsep perang gerilya dimana sebuah tim memiliki pasukan-pasukan komando yang memiliki keahlian husus dengan kemampuan memberikan layanan kepada unit yang membuthkan. Puskom Mafaza yang disetting sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan rekayasa teknologi informasi terbuka untuk semua umat muslim. Beberapa hal yang menjadi syarat dasar adalah : 1) mau menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan ummat serta memakmurkan, dan 2) Berkemauan menjadikan diri pribadi unggul dibidang rekayasa Teknologi Informasi. Untuk kemampuan-kemampuan teknisnya akan dilakukan melalui test tertulis mengenai bidang-bidang khusus sesuai peminatan bidang masing-masing.

Puskom MAFAZA adalah sebuah pengembangan dari divisi kesekretariatan yang selama ini telah berfungsi sebagai pusat database takmir masjid Fatimatuzahra – Purwokerto. Pengembangan secara optimal di bidang teknologi informasi ini diharapkan mampu melahirkan insan-insan kreatif dan inovatif dalam dunia TI. Dalam lingkup kecil,disini misalnya kita belajar seperti membuat software-software yang dibutuhkan dalam ativitas sehari-hari, setidaknya kita mengenal dunia IT disini. Sistem Open Source ini membuat para anggota memiliki ruang bebas untuk belajar dan berkreasi. Pemikiran dasarnya adalah perkembangan teknologi adalah bagian dari sains yang harus kita pelajari, teknologi nggak mahal, teknologi nggak susah, belajar itu enjoy! Tentunya dalam proses pengembangan ini, Puskom telah memiliki jaringan dengan pihak-pihak yang terkait yang berkompeten di bidangnya.

Kenapa Masjid? (catatan kaki tentang MAFAZA)


Puskom Mafaza ini berbasiskan kekuatan masjid sebagai pusat ibadah umat Islam. Ibadah dalam arti yang sangat universal, termasuk didalamnya mengembangkan ilmu pengetahuan. Takmir masjid Ir.M.Nuskhi Zetka yang juga mantan sekum PB HMI (MPO) era 1986 (Periode Egy Sudjana), memiliki strategi manajemen masjid sebagai pusat aktivitas masayarakat yang berlandaskan nilai Islam. Bisa dikatakan bahwa Masjid Fatimatuzahra (Mafaza) adalah Islamic Centre di kota Satria Purwokerto ini.

Sudah saatnya kita sadari bahwa masjid adalah sebuah aset berharga bagi umat Islam. Masjid adalah benteng pertahanan umat Islam untuk menyusun strategi-strategi yang progresif. Masjid bukan saja sebagai tempat untuk sholat berjamaah, tapi lebih dari itu masjid merupakan jantung aktivitas masyarakat dan pengembangan keilmuan untuk dapat dimanfaatkan umat. Keseimbangan IPTEK dan IMTAQ serta pemberdayaan masyarakat adalah ruh dari pengembangan masjid yang berlokasi di Jl.Madrani – Grendeng Purwokerto ini. Selain di bidang pengembangan teknologi informasi, pengembangan ilmu pengetahuan juga dilakukan di berbagai bidang seperti hiburan, pendidikan, ekonomi, budaya, kesehatan, pembinaan keluarga, pemberdayaan masyarakat, dll.

Mafaza adalah salah satu benteng umat Islam di kota Satria. Dengan pemakmuran masjid di berbagai wilayah, kita harapkan pondasi kekuatan umat muslim menjadi kuat. Semoga.

Shinta arDjahrie (crew of divisi COC Elektronika Puskom Mafaza).

Selengkapnya.....

Older Posts

Blogger Template by Blogcrowds.